Kajian Keterlambatan Proyek Engineering Procurement Construction Commissioning Jaringan Transmisi 150KV

Studi Kasus PLTP Karaha-Gi Garut

  • Bayu Kania Universitas Langlangbuana
  • Robby Gunawan Yahya Universitas Langlangbuana
  • Andri Kurniawan Universitas Langlangbuana

Abstract

Proyek EPCC merupakan proyek dengan tingkat kompleksitas pekerjaan yang cukup tinggi dibandingkan dengan jenis proyek konstruksi lainnya. Kompleksitasnya yang tinggi menyebabkan proyek EPCC memiliki resiko mengalami keterlambatan yang cukup besar. Hal ini pun terjadi pada proyek EPCC Pembangunan Jaringan Transmisi 150kV PLTP Karaha–GI Garut, yang mengalami keterlambatan selama 235 hari dari rencana pelaksanaan pekerjaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab keterlambatan pada proyek EPCC pembangunan jaringan transmisi. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif kuantitatif dengan mengidentifikasi jenis-jenis kegiatan serta penyebabnya yang mempengaruhi keterlambatan proyek EPCC. Setelah itu jenis kegiatan serta faktor penyebab akan diukur tingkat kepengaruhannya terhadap keterlambatan proyek. Penelitian dilakukan melalui studi literatur, wawancara dengan menggunakan kuesioner kepada pihak-pihak yang terkait, serta analisis dengan AHP untuk mengetahui bobot masing-masing parameter. Dari sembilanbelas jenis pekerjaan, terdapat lima item pekerjaan yang paling berpengaruh dalam menyebabkan terjadinya keterlambatan proyek EPCC Pembangunan Jaringan Transmisi 150kV PLTP Karaha–GI Garut, yaitu: (1) pekerjaan re-route survey; (2) pekerjaan pondasi; (3) pekerjaan erection tower; (4) pemasangan & pengukuran tahanan tower grounding; dan (5) pekerjaan stringing. Adapun lima faktor penyebab keterlambatan yang paling berpengaruh terhadap keterlambatan adalah: (1) perubahan/ penambahan jumlah tower dengan bobot 0.177; (2) kurangnya sumber daya manusia dengan bobot 0.148; (3) terlambatnya pembangunan PLTP dengan bobot 0.131; (4) investigasi/survey awal yang tidak akurat dengan bobot 0.131; dan (5) keterlambatan pekerjaan sebelumnya dengan bobot 0.059.

References

[1] Ariful Bakhtiar, Soehardjono Agoes dan Hasyim M. Hamzah. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keterlambatan Proyek Konstruksi. Jurnal Rekayasa Sipil / volume 6, No.1 (2012)
[2] Handayani, R., Frederika, A., & Wiranata, A. Analisis Faktor-Faktor Penyebab Keterlambatan Pelaksanaan Pekerjaan Proyek Gedung Di Kabupaten Jembrana. Jurnal Ilmiah Elektronik Insfrastruktur Teknik Sipil, Volume 2, N0.1, Pebruari (2013).
[3] Hutasoit P. Hubertus, Sompie B. F. Pratasis Pingkan A. K. Analisis Durasi Terhadap Peningkatan Biaya Pada Konstruksi. Jurnal Teknik Sipil, Vol. 12, N0.61,Desember (2013).
[4] Suyatno, 2010. Analisis Faktor Penyebab Keterlambatan Penyelesaian Proyek Gedung Aplikasi Model Regresi. Tesis Magister Teknik Sipil Universitas Diponegoro (2010).
[5] Widiasanti, dan Lenggogeni. Manajemen Konstruksi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya (2013).
[6] Alonso A Jose dan Lamata M Teresa. “Consistency The Analytic Hierarchy Process: A New Approach”. International Journal of Uncertainty, World Scientific Publishing Company (2006).
[7] Anonimus, 2002. Ruang bebas dan jarak bebas minimum pada Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) dan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) (SNI 04-6918-2002). Badan Standarisasi Nasional
Anonimus, 2010. Kriteria Desain Tower Rangka Baja (Latticed Steel Tower) Untuk Saluran Udara Tegangan Tinggi dan Tegangan Ekstra Tinggi (SPLN T5.004:2010). PT. PLN (Persero).
Published
2020-03-20
How to Cite
KANIA, Bayu; GUNAWAN YAHYA, Robby; KURNIAWAN, Andri. Kajian Keterlambatan Proyek Engineering Procurement Construction Commissioning Jaringan Transmisi 150KV. Jurnal TIARSIE, [S.l.], v. 17, n. 1, p. 7-12, mar. 2020. ISSN 2623-2391. Available at: <http://jurnalunla.web.id/tiarsie/index.php/tiarsie/article/view/74>. Date accessed: 04 aug. 2020. doi: https://doi.org/10.32816/tiarsie.v17i1.74.